22 Mei 2012

Di hari aku tak Berdoa





Doa ku membeku hari ini
tersimpan begitu saja
didalam lemari tempat buku buku berada
di hari ini aku tak berdoa
entah sengaja entah lupa
kubiarkan saya
begitu adanya
doa ku cuma doa biasa
saking biasanya
dia diobral setengah harga
diolok oleh pendosa
doa ku tak pernah tulus
selalu aja ada maksud
dibalik doa
oh Tuhan
dikala aku berhenti berdoa
apakah aku lantas menjadi pendosa ?
doa ku masih tersimpan rapi
dilemari tempat buku
dan kutu berebut tinggal
Doa ku kesepian
dia membeku ditepian buku

17 Apr 2012

dalam perjalan pulang



gambar diambil dari http://pasocamino.blogspot.com


Lampu lampu jalan mulai benderang
dibeberapa titik sisa sisa hujan menjadi genangan menutupi gorong gorong jalan
halte halte penuh sesak
sekumpulan orang penuh hiruk pikuk,
menuliskan kisah berisi pesan pesan untuk orang orang di rumah
berisi gejolak gelisa yang bertubi tubi
yang hanya bisa digantikan kata kata
kata yang memaksa kita terus menerus berjalan


lalu tanpa kita sadari kita mulai  
berlari lari menyaksikan sisa sisa waktu yang tercecer dijalan
tau tau kita telah menjadi tua
halte halte pun hanya menjadi tempat 
singgah sementara


tubuh kita lelah; dik
bahkan kunang kunang tak kita  
temukan lagi disemak belukar
yang tersisa cuma halte yang  
berevolusi, menjadi tubuh
berkarat dan berteman kawan dengan debu

kemana? kita akan pulang
membagikan gelisa resah yang bertubi
disaat hinggar binggar kota tak  
dapat lagi menampung
menolak semua kata kata dan cerita

kita memang dipaksa berjalan ; dik
kita selalu ada dalam kondisi ini
memenuhi hasrat firasat,

maka di halte ini kita singgah sementara
menyaksikan sekumpulan orang penuh 
hiruk pikuk membagikan selebaran cerita
di lain waktu nanti kita pulang
memeluk tubuh yang compang camping


dan ; semoga lampu lampu jalan
menemani kita berjalan pulang
menemukan diri yang tak akan pernah usai 


(pariaman-kuingan dalam perjalan pulang)

6 Apr 2012

waktu


Aku sendirian mematung
Dipinggiran waktu
Yang terjaring oleh kerinduan
Detik menit berguguran
Terbawa arus deras kesedihan
Tertelan ditengah pusaran

Aku bergegas, menyelami sungai waktu
Memunggut detik menit
Yang terseret : jauh
Aku terombang ambing
Dihantam gelombang
Ditelan pusaran
Detik menit, semakin menjauh

Tubuh ku letih
Jiwa ku terkoyak dibeberapa tepian
pusaran yang tercipta, tak mengenal peluh
Detik menit semakin terseret

Aku tercengang, jarum waktu
Patah terhantam karang
detik menit : semakin jauh
Jarak pandang ku memudar
Tersiram gelombang rindu
Detik menit tak dapat kujangkau
Terserat deras entah kemana

Aku berenang ketepian
Bersama tubuh yang letih
serta jiwa yang terkoyak

Aku sendirian mematung
Ditepian sungai waktu
Menjaring detik menit
Yang telah hilang

"semoga kau ketemukan, saat aku bergegas pulang"

9 Mar 2012

Surat Untuk mu




ini surat lama yang tak sempat ku kirmkan pada mu yang kutulis dalam dinding dinding kaca
hari berangsunr, tulisan tersisa telah ternoda air mata, bahkan melapuk di kedua sisinya, dimakan waktu
muka mu yang letih, masih trdampar pada ingatan
Semua orang pernah mengalami
dalam satu waktu
pertemuan berkawan dekat dengan perpisahaan

 muka mu yang letih, masih terdampar pada ingatan
aku yang menghabisi malam, pada cerita yang berbeda
sedang kau terluka sendiri berulang setiap har iseperti cerita

ah

hari ini, kau kembali melangkah lagi walau aku tak mengerti kapan kita pernah berjumpa atau mungkin waktu kita tak pernah lama
melewati lorong lorong panjang, sekedar bertutur sapa

ah
tapi hidup memang bercerita, semua harus kita lihat dengan mata
dibalik peristiwa, atau di pintu
ada maksud yang di janjikan - untuk kita

 perpisahan dan kesedihan memang seperti debu yang menempel di sepatu
mengkisahkan telah jauh waktu yang berlalu

ah
aku tak pernah tahu apa yang terjadi dengan mu
jika kau kembali nanti
ceritakan lah padaku tentang perjalanmu
 kau boleh pulang kapan saja kau mau

pintu selalu ku buka


kau tak sendiri

13 Des 2011

preghiera2




kesaksian
Sejatinya kau mutlak
Sejatinya kau maha semua


Maka hanya padamu aku bersaksi
walau penuh luka, menghujam perih