27 Nov 2013

Raya



tumbuh tumbuh lah jadi yang kau mau
lekas lekas lah, mekar merebak
terbang terbang lah, bersama gemuruh doa doa
hidup hiduplah yang mahir meramu humor dan tragedi
jawaban untuk setiap pertanyaannya berloncatan loncatan
di lembar-lembar lontar perjalan

siap siaplah memikul beban
doa kami bersama gemuruh hujan

31 Okt 2013

doa yang




doa ku begitu lajang
 telentang dalam gemerlap bintang
pada sepi, di kebun ilalang

doa ku begitu jalang
 terjerembab di antara lalu lalang
pada waktu, berangusr ilang

doa ku tuhan, doa yang sepi
sesepi malam datang
doa ku tuhan, doa ku yang berulang
semoga ku mendengar tuhan
doa doa ku, yang berserak
dan terjerembab

25 Sep 2013

Sajak Mesin Cuci


Mesin cuci
membilas lembut rindu rindu
atau
pelukan hangat bunyi bunyi
percikan air

menggugurkan sepi yang membukit 

lalu kemudian kau datang padaku

"telah kubilas rinduku untukmu, esok hari jangan lupa
belikan aku diterjen"



nb = aku inggin membelikanmu mesin cuci, sungguh

15 Jun 2013

Doa doa




Bismillahirrahmanirrahim
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang

/1/
ya Rabb ku, air wudhu pun belum menghilang
rasa gundah datang menerjang

/2/
inggin ku bekap rindu yang selalu datang
sebelum pijar matahari menerang

/3/
kutulisakan aksara rindu di kertas
yang telah usang


/4/
tapi, apa kah berguna sebuah aksara
maka doa2 ku pantul kan
dalam dinding kamar yang membisu

/5/
bulir2 air mata jatuh menyeka wajah ku
lalu apa gunanya sebuah tisu?

/6/
diam2 ku hamparkan sajadah
lalu ku tundukan
melafalkan 
ribuan kata2

/7/
ya Rabb
karena ku yakin
kau mendengar
untaian lafalku

/8/
aku menuggunya datang
biar pun malam datang

/9/
krna rindu ku tak terbendung

/10/
ya Rabb ku
karena cuma Kau
yang mengetahui
rangkaian doa di dalam hati ku

/11/
maka ku lepsakan semua gundah
serahkan kepada pengguasa
ribuan waktu

/12/
dan biarkan lah ia menemukan
ribuan cahaya

/13/
doa 2 yang kupantulkan
menghiasi malam
menerangi rumah mu

/14/
ya Rabb ku
aku tunggu ia pulang

111210




GADIS PEMINTA-MINTA
Oleh  : 
Toto Sudarto Bachtiar

  

Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil 
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka 
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu 
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa 
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil 
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok 
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan 
Gembira dari kemayaan riang 

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral 
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal 
Jiwa begitu murni, terlalu murni 
Untuk bisa membagi dukaku 

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil 
Bulan di atas itu, tak ada yang punya 
Dan kotaku, ah kotaku 
Hidupnya tak lagi punya tanda 
  
  
  
  

Memahami Puisi, 1995 
Mursal Esten 

22 Mei 2013

untuk yang bernama belakang Keril II



Suatu hari nanti
iya suatu hari
ketika tanggal telah pasti
dan janji telah fasih
mau kah kau memanggil ku abi

untuk yang bernama belakang Keril




aku kadang kala membayangkanmu
duduk sendiri, di tengah taman
yang telah susah payah kau buat

aku pernah melihatmu dalam anganku
kau terdiam diberanda depan rumah mu
menikmati ampas kopi, yang tertinggal pada sela gigi

aku dihantui perasan
bertanya tanya
menggapa harus sepi
menggapa kau selalu
memperhatikan jalan setapak
yang membelah rumah mu

apakah kau menanti seseorang ?

aku yang mau melewati jalan setapak itu

16 Mei 2013

cermin


teaken from
http://sphotos-a.xx.fbcdn.ne



ada sepasang mata
didalamnya bersemayam jelaga
mengotori air mata
dari sepasang mata

adakah kamu?
atau adakah aku?

membuat sepasang mata
mengeluarkan air mata

air mata bercampur jelaga
tak lagi terjaga, mengalir
menembus lara, berlari menuju duka

adakah aku
ataukah kamu

membuat sepasang mata
mengairi mata dengan lara

sore tadi aku melihatnya
disepasang mata
tak ada lagi jelaga
karena bola mata, telah hilang hanyut
terbawa air mata

adakah aku
atau kah kamu

menghapus lara

9 Apr 2013

Rindu



Aku rindu Ayah ku
Aku rindu Ibu ku
Aku rindu Adik Laki2 ku
Aku rindu Adik Perempuan ku
Aku rindu Kakak2 Perempuan ku
Aku rindu Kakak ku yang telah medahului ku
Aku rindu Adik kecil ku yang juga telah mendahului ku
Aku rindu Malaikat2 Kecil ku
dan
Aku rindu Tuhan ku
Aku rindu Jalan-Nya
Aku rindu Kebesaran-Nya

5 Apr 2013

Ruang tunggu



sampai kapan
kau akan menunggu ku
waktu perlahan menggigit
mengahabisi jatah tersisa untuk mu

tak perlu lagi kau memburu ku
tak usah lagi kau tunggu aku

ini tanggan ku
ini kaki ku
yang kau perlukan untuk kau topang
yang kau butuhkan menemani langkahmu

di simpang jalan
tersisa bara perjalanmu
berbelok arah
menghantam marga

tak usah lagi kau tunggu
ini tangan ku
ini kaki ku
ini diri ku
renguh segera

luka I




air mata mu itu minyak
memercik amarah ku
ibu

21 Mar 2013

Sesuatu yg menjadi pertemuan





Jika saja diantara kita ada yang berniat mencatat. Berapa banyak pertemuan yang telah kita lalui. Aku mungkin tak ambil pusing. Pertemuan - pertemuan kita begitu ringkas. Walau kadangkala begitu menyiksa. Kita tak pernah mau terbawa waktu. Waktu yang beku. Kita yang duduk bertemu muka. Membuang pandang pada tatapan yang asing. Selalu saja membicarakan banyak hal yang hadir pada masa lampau. Dan meniadakan masa depan yang berlalu lalang pada benak kita masing - masing. Atau di satu ketika. Ketika petemuan entah yang keberapa. Kita menyaksikan hujan yang turun perlahan dari bingkai jendela. Tak ada kata yang terucap. Kita larut pada pikiran masing - masing. Hanyut terbawa hujan. Waktu yang melaju sendiri terbuai begitu saja. Tapi kita tak ingat bahkan tak bisa menceritakannya kembali. Tanpa kita sadari. Pertemuan pertemuan menjadi candu. Tubuh kita tercabik tak berdaya. Sementara pada saat yang sama. Kita tak mau terbawa waktu. Kita hanya tak bisa. Mungkin juga karena kita belum terbiasa. Pertemuan yang ringkas telah mengajarkan kita banyak hal. Mengajarkan kerinduan tetang masa lalu. Hingga akhirnya pertemuan yang ringkas perlahan mulai menyiksa kita. Membuat kita menyadari banyak hal. Mungkin kita harus kembali. Disaat waktu tak membawa kita pada sebuah pertemuan. Jika saja diantara kita ada mau berbicara. Begitu banyak hal yang membuat pertemuan kita menjadi beku. Tapi kita saling menjaga. dan membiarkannya menjadi masa lalu. Kita tak mau ambil pusing.Tubuh kita mungkin sudah lelah. Berbicara yang menghasilkan luka. Semua orang pernah mengalami pertemuan. Berapa singkatnya kita yang mengatur. Aku, Kamu, Kita, mungkin pernah saling bertemu, lalu mulai saling mengenal, membagi cerita. Sedih. Duka. Bahkan Bahagia. Pertemuan selalu mengandung perpisahan. Suka atau tidak suka. Kita pasti melaluinya. Jika saja diantara kita ada yang berniat memahami, makna tersembunyi pada sebuah pertemuan dan perpisahan. Tak pernah ada yang salah dari sebuah perpisahan, sama seperti tak ada yang salah dengan pertemuan. Aku, Kamu, Kita pernah berjumpa. Aku, Kamu, Kita dan semua pernah berpisah  

 Sudah berapa lama kita tak duduk bertatap muka?.  

Kini aku menikmati hujan yang turun dari bingkai jendelaku. Yang perlahan lahan. Membanjiri perkarangan rumahku. 

2004-2012

Jejak Kawan




petang sore kemarin, kau kabarkan padaku
Dalam suatu waktu, pada kisah perjalanmu
kau akan singgah sebentar mengunjungi rumah

kini dimeja ku, tersedia dua cangkir teh
hingga ketika tiba saat kau singgah
kau dan aku, menghangatkan kembali
perbincangan yang tertunda lama

Ruang






Suatu saat nanti, tubuh kita akan dibalut doa doa, tak ada yang tersisa.
 Lalu yang kehilangan mulai berduka, sebagian masih mengingat luka yang pernah tercipta. 

Ketika orang orang yang berduka dan terluka berpaling muka. Bahkan ketika doa doa yang membalut mulai menghanyut, bersama waktu yang tak pernah berhenti berdenyut. 

Tubuh kita yang bersemayam dalam sepi,sendiri........ 

om(bekasi)

1 Mar 2013

Pikiran

 


Ada yang mula mula menggangu pemikiran kita. Setiap malam setelah jamuan makan itu. Kau akan pergi meninggalkan rumah. Ucap mu pada saat itu. Aku hendaknya inggin bertanya, tapi kubiarkan saja mengendap dalam pemikiran. Mungkinkah terlalu kecil dan gugup. Hingga tak ada ucap yang menjadi kalimat. Ada ruang yang tercipta dalam rongga pikiranmu. Kulihat itu dari mata. Mungkin saja pencarian mu, dimulai dari sini bukan. Pada angin yang akan menyampaikan angan-angan mu. Pada lampu lampu jalan yang menemani. Mungkin saja bukan. Mungkin saja pencarian mu telah gagal mempertemukan kita lagi. Tapi kubirakan saja pikiran ku bermain main dengan pikirannya sendiri. Kau bermain pada liar pikiran mu. Sesungguhnya kita memang bukan sepasang kata kata. Kata kata yang kelak menegelamkan kita padaa masa lampau. Kau percaya diri dalam mimpi yang ada. Aku menikmati senja yang tercipta. Melalu sepasang jendela kaca. Menatap bahu jalan membelah perkarangan rumah. Menunggu setiap kabar atau rindu. Mungkin saja bukan, menunggu adalah pekerjaan memanjangkan usia kita. Kini dimejaku, telaah kusediakan dua cangkir teh
Hingga ketika tiba saat kau singgah